Dijelaskan Asep, responden sebagai calon pemilih lebih memiliki kecenderungan dalam menentukan dukungan kepada figur ketika memaparkan visi dan misi secara langsung bertatap muka dengan masyarakat.

Selain itu, rekam jejak calon baik dari cara berkomunikasi, konsistensi terhadap komitmen yang dijalin juga menjadi acuan dalam menentukan dukungan.

Tetapi dukungan yang ditentukan oleh calon pemilih juga tidak menjadi jaminan sebagai pengukur untuk menentukan pilihan di TPS.

“Kami berkesimpulan pemilih tidak mudah terpengaruh oleh kampanye yang bersifat visual semata. Mereka mencari informasi yang lebih mendalam dan substansial mengenai calon yang akan mereka dukung dan mereka pilih,” jelas Asep.

Banner yang terlihat mencolok di jalanan, tetapi pesan yang disampaikan sering kali tidak mengena.

Baca juga: Soal Penampungan Sampah tak Berizin di Purbahayu, Camat Pangandaran Mengaku Sudah Memanggil Kades, DLHK dan Pihak Swasta

“Kampanye harus memberikan ruang bagi pemilih untuk berinteraksi langsung dengan calon melalui forum diskusi, meeting, atau sesi tanya jawab secara langsung,” pungkasnya.(*)

1 2
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version