Dalam pelaksanaannya, petani akan mendapatkan pendampingan dari empat jenis fasilitator, yakni fasilitator pembenihan, budidaya, pengendalian hama penyakit, dan pemasaran. Para fasilitator ini akan mendapatkan pelatihan dari Universitas Mataram guna memastikan pendampingan berjalan optimal dari proses produksi hingga pemasaran.
Selain itu, program ini juga melibatkan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dalam seluruh tahapan produksi. Keterlibatan BPSB bertujuan memastikan benih yang dihasilkan memenuhi standar mutu melalui proses sertifikasi, termasuk uji daya tumbuh sebelum dipasarkan.
Program Hilirisasi Penangkaran Benih Padi dijadwalkan mulai berjalan pada Juli 2026. Pada tahap awal akan disalurkan sebanyak 3 ton benih label putih. Selanjutnya, pemerintah akan membeli sekitar 300 ton calon benih dari kelompok tani untuk dikembangkan menjadi benih label ungu yang siap dipasarkan, termasuk ke luar daerah.
Dengan luas baku sawah mencapai 8.344,91 hektare dan kebutuhan benih sekitar 250 ton, program ini diharapkan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani sebagai penangkar benih unggulan.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Lapas Sumbawa Besar Panen Raya Jagung Bersama Warga Binaan
“Harapannya petani bisa menjadi mitra pemerintah yang mandiri, sekaligus meningkatkan ekonomi dan melahirkan penangkar benih unggul di KSB,” tutup Jamilatun.(Red).

