Ia mencontohkan ungkapan “ila” atau “pina ila” yang mengandung standar nilai tentang rasa malu. Nilai tersebut tidak sekadar dipahami sebagai sebuah kata, tetapi dapat menjadi bagian dari pembelajaran mengenai etika, sikap, dan kepribadian.

“Contoh bahasanya, bahasa yang punya nilai yang menunjukkan satu nilai tertentu. Contohnya “ila, pina ila”. Ada standar nilai yang membentuk rasa malu,” jelas Bupati.

Karena itu, Bupati menekankan pentingnya menemukan formula yang tepat dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi bahan ajar. Proses tersebut perlu melibatkan pihak-pihak yang memahami bahasa, adat, budaya, dan pendidikan agar nilai yang terkandung di dalam tradisi dapat dirumuskan menjadi materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.

“Untuk mengetahui itu bagaimana caranya, melalui bahasa-bahasa lokal yang memiliki nilai. Mencari formula yang tepat harus kita serahkan kepada pakarnya, apakah dari sisi bahasa yang memiliki nilai tertentu yang diformulasikan dalam bentuk bahan ajar sehingga menjadi pembelajaran,” ujarnya.

Bupati juga menegaskan bahwa tantangan terhadap pembentukan kepribadian generasi muda merupakan persoalan yang harus dijawab bersama. Karena itu, keberadaan guru menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan nilai-nilai tersebut dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik.

“Kita ajarkan pelatihan guru-guru muatan lokal, mulai dari pemahaman sampai cara pengajaran,” tegasnya.

Melalui loka karya ini, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berharap tersusun bahan ajar muatan lokal yang tidak hanya memperkenalkan tradisi Sumbawa kepada peserta didik, tetapi juga mampu menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari pembentukan karakter, etika, dan kepribadian generasi muda Sumbawa Barat.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan & Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa Barat, Agus, SPd, M.M turut hadir dalam Loka Karya Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal Nilai-Nilai Tradisi Sumbawa mengemukakan, masih ada beberapa tugas yang harus dikerjakan untuk memastikan penyelenggaraan di sekolah berjalan seperti yang diharapkan yaitu, penyusunan modul, pembuatan cetak Buku ajar, pelatihan guru muatan lokal, dan pembuatan regulasi sebagai payung hukum penyelenggaraan program.

“Setelah loka karya ini, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, yakni penyusunan modul, pencetakan buku ajar, pelatihan guru muatan lokal, dan penyusunan regulasi sebagai payung hukum penyelenggaraan program,” kata Agus.

Baca juga: Warga Keluhkan Camat Gunungtanjung Kab Tasik Jarang Ngantor, Tokoh Sebut Kinrjanya Buruk dan Sering Mangkir Rakor

Dengan demikian, muatan lokal diharapkan tidak sekadar menjadi mata pelajaran tambahan, tetapi menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan perkembangan zaman dengan nilai-nilai lokal yang menjadi identitas masyarakat Sumbawa Barat.(Red)

1 2
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version