Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi pada pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Secara sosial, kapasitas dan kesadaran warga sekolah meningkat, didukung oleh fasilitas konkret seperti rumah kompos dan sistem pemilahan sampah berbasis sumber. Lebih jauh, pendekatan ini juga membuka peluang ekonomi bagi sekolah.
“Adiwiyata adalah investasi jangka panjang. Kita tidak hanya sedang menanam pohon di sekolah, tapi sedang menanam kesadaran di pikiran siswa agar mereka menjadi penjaga bumi di masa depan,” ungkap Bambang Supriadi, Pemerhati Lingkungan dan Founder CV Tamu Baru selaku mitra pelaksana Program Pengelolaan Sampah di Sekolah.

Salah satu hasil nyatanya adalah POSTA (Pupuk Organik Sekolah Kita), produk pupuk organik yang dihasilkan dari pengelolaan sampah sekolah. Melalui pengelolaan ini, sekolah tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga mampu menjual produk, menopang biaya operasional rumah kompos, serta mendukung kegiatan sekolah lainnya. Konsep ekonomi sirkular ini menjadi kunci keberlanjutan program setelah masa pendampingan berakhir.

Baca juga: Menu MBG di SDN Sukamulya Cigalontang Diprotes Siswa, Telor Koclak dan Bau Hingga Roti Bulukan

Ke depannya, capaian SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah lain di Sumbawa Barat. Dengan dukungan kebijakan daerah, sekolah memiliki peluang besar untuk bertransformasi tidak hanya sebagai pusat pendidikan akademik, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya generasi yang lebih peduli dan bijak terhadap lingkungan.(Red)

1 2
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version