Ika mengatakan, jika dalam proses menghimpun respon tersebut kebanyakan masyarakat tidak setuju, kemungkinan besar lahan yang saat ini mereka garap tidak akan jadi lahan pengganti.
” Namun hal tersebut tidak akan mengubah kenyataan lahan yang saat ini mereka garap merupakan lahan milik PT BJA. Dan jika banyak masyarakat yang setuju meski ada syarat atau tidak, lahan tersebut nantinya akan kembali ke tangan negara” terangnya.
Ika mengatakan, saat ini pihaknya mengaku belum mendapatkan hasil dari riset yang di mengenai tanggapan masyarakat terhadap wacana penggantian lahan.
” Hal tersebut lantaran saat ini kami baru selesai mengumpulkan jawaban masyarakat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang di lakukan tim terpadu” ujarnya.
Ika menambahkan, sebenarnya saat ini masyarakat Banjaranyar memiliki rasa traumatis yang cukup tinggi dan terasa berat akibat adanya ulah yang melibatkan BUMN tentang masalah lahan.
” Hal itu juga berdampak terhadap psikologis mayarakat sini dan cara pandang mereka terhadap wacana ini. Dan wajar saja karena sudah 24 tahun masyarakat mencoba ingin memiliki lahan ini malah sudah ada yang sampai pergi ke Provinsi sampai ke pusat juga ” ungkapnya.
Ika menjelaskan sebenarnya sejak tahun 1997, lahan yang saat ini di garap oleh masyarakat di ketahui kementrian Agraria telah memberi SK kepada PT BJA sebagai izin penggunaan lahan yang sebanyak 708 hektare tersebut. Bahkan kementrian kehutanan pun sudah memberikan izin
“Dan intinya status lahan tersebut tidak bisa di pindah tangan kan kepada orang lain selagi PT BJA nya masih memiliki dokumen itu, dan sebenarnya untuk dokumen tersebut sudah kami tunjukan juga ke keasliannya pada masyarakat ” ujarnya.
Ika menerangkan, saat ini ada sekitar tiga ribu orang di kecamatan Banjaranyar yang menggunakan sejumlah 708 hektare lahan tersebut untuk di garap.
” Jadi setiap orang memiliki garapan lahan sebanyak 224 bata. Namun dengan adanya wacana tukar menukar kawasan ini kemungkinan program PTSL, Redis di kecamatan Banjaranyar di off kan dahulu Karena harus menunggu hasil dari riset yang di lakukan tim terpadu dahulu,” pungkasnya.(Rvn)**

