Dalam sistem yang dibangun, RPH hanya akan menerima sapi dengan bobot minimal 300 kilogram. Untuk memenuhi standar tersebut, pemerintah mengembangkan sistem plasma, di mana peternak menggemukkan sapi berusia 1,5 hingga 2 tahun dengan bobot awal sekitar 200 kilogram hingga siap potong dalam waktu relatif singkat.

Pada tahun pertama, pemerintah memberikan dukungan penuh kepada kelompok tani, mulai dari bantuan bibit sapi, pembangunan kandang berstandar industri, penyediaan fasilitas air, hingga gudang pakan dengan nilai mencapai Rp400 juta per kelompok.

Memasuki tahun kedua, kelompok tani ditargetkan sudah mampu mandiri secara ekonomi. KTT Ai Nusak diharapkan menjadi percontohan bagi kelompok lainnya, sehingga pada tahun berikutnya seluruh kelompok dapat berjalan mandiri dan membentuk siklus usaha yang berkelanjutan.

Baca juga: Perjuangan Forum Pancatengah Protes Jalan Asal-asalan, Tuntut Kualitas Awet 10 Tahun untuk Anggaran Daerah

Sebagai langkah pengawasan dan pendampingan, pemerintah juga melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di lapangan. Dengan dukungan tersebut, program agribisnis sapi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara nyata dan berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa Barat.(Red)

1 2
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version