Ia menyoroti gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dinilai hanya menjual penampilan visual, alih-alih visi yang mendalam.

Pengamat politik itu bahkan menyamakan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi mirip dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Jadi kita lagi menonton orang jualan komoditas yang namanya penampilan. Visualisasi, bukan visi.”

“Jokowi dan Dedi Mulyadi sama-sama besar lewat intensitas kemunculan mereka di media, bukan karena visinya,” ujar Rocky dalam sebuah momen, baru-baru ini.

Program Dedi Mulyadi yang mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer pun dikritisi Rocky Gerung.

Menurutnya, program tersebut adalah contoh kebijakan dangkal.

Rocky Gerung menilai pendekatan seperti itu hanya mendisiplinkan tubuh, bukan mengajak berpikir.

Hal itu kembali ia samakan dengan teori disciplinary society ala Michel Foucault.

Tak berhenti di situ, Rocky Gerung juga menyentil tingkat IQ masyarakat Indonesia yang disebut stagnan di angka 78 selama satu dekade terakhir.

Kondisi ini, lanjut Rocky Gerung sebagai penyebab larisnya “kedangkalan” dalam politik.

Baca juga: Inilah Usulan untuk Program Prioritas Pembangunan Kabupaten Pangandaran Tahun 2026

“Hanya dalam masyarakat dengan IQ 78, kedangkalan itu laku dan kita masih di situ.”.(*)**

1 2
Share.
Leave A Reply

Exit mobile version