Lebih jauh Aji menyampaikan, AMMAN juga mengembangkan ekowisata (wisata bahari) berkelanjutan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar untuk mendukung pengembangan ekowisata, dengan melaksanakan pelatihan dan bimbingan teknis bagi kelompok masyarakat pengelola wisata, melakukan sertifikasi pemandu wisata, penyedia layanan pariwisata, sampai kepada penjaga keselamatan pantai atau lifeguard .
“Selain hal di atas ,AMMAN juga memperkuat pengelolaan sumber daya pesisir dan laut dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan dan memelihara sarana dan prasarana, serta memberikan bimbingan teknis mengenai penangkapan ikan yang berkelanjutan bagi kelompok nelayan dan operator perikanan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan pesisir dan laut, khususnya terkait dengan pariwisata berkelanjutan,” tandasnya.
Program TransformaSea Gili Balu dilakukan berbasis Riset Terapan berdasarkan kaidah ilmiah, yang dalam hal ini diimplementasikan dan didampingi secara teknis oleh mitra pelaksana program Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) dari IPB University.
Gili Balu yang dalam bahasa lokal berarti delapan pulau, merupakan gugusan pulau-pulau kecil sebanyak 8 pulau di sebelah barat laut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang secara administratif masuk di wilayah kecamatan Poto Tano. Terdapat satu desa sebagai gerbang utama menuju ke Gili Balu, yakni Desa Poto Tano dan empat desa sekitar yang menjadi penyanggah, yakni Desa Senayang (Sepakek), Desa Tuananga, Desa Kiantar dan Desa Tambaksari.
” Hari ini kami mengundang teman teman media untuk mengunjungi 5 pulau dari 8 pulau yang ada di Gili Balu,” bebernya.
Pokdarwis Bua Lawah (Pintu Masuk) Desa Poto Tano explore Gili Balu menurunkan 8 anggotanya untuk mendampingi teman teman media.
Adapun ke 5 Pulau yang di kunjungi tersebut yaitu Pulau Belang (Pabelah), Pulau Kambing (Tukohbembe), Pulau Ular (Tukohmabasar), Pulau Kenawa, dan Pulau Namo (Gili Range) dalam bahasa lokalnya.
Pulau Belang merupakan rawa berbentuk telaga yang didiami oleh berbagai habitat flora dan fauna, dengan luas 492,65 hektar. Sebagian kecil dari wilayah pesisir Pulau Belang berpasir putih. Pada pesisir bagian utara merupakan perairan yang cukup dangkal dengan terumbu karang yang indah dan menarik. Pada bagian lereng barat daya terdapat sebuah pantai kecil yang dikelilingi oleh hutan Mangrove.
Pulau Kambing merupakan bukit berbatu berbentuk lonjong dengan luas 5,05 hektar. Pulau Kambing berada diantara pulau Belang dan Pulau Paserang. Pada bagian selatan terdapat perairan yang cukup dangkal berbatasan langsung dengan pulau Belang. Pada perairan dangkal terdapat terumbu karang yang sangat cocok untuk budidaya spesies ikan jenis tertentu, seperti Hiu, Ikan Pari dan sejenisnya.
“Saat kita menuju pulau Belang dan pula Kambing ada 7 laguna yang kita lewati dan sekelilingnya kita melewati pohon mangrove yang begitu banyak jenisnya. Laguna itu adalah perairan dangkal yang terpisah dari perairan luas antara pulau Kambing dan pulau Belang ada 7 laguna. Sedangkan mangrove itu sangat bermanfaat untuk memecah ombak dan menghindari abrasi pantai juga sebagai tempat bertelurnya ikan dan pertumbuhan terumbu karang,”tambah Aji.
Sebelum ke Pulau Kenawa melewati Pulau Ular. Dan di Pulau ini biasanya tamu yang datang khusus untuk eksperimen dan penelitian. Pulau Ular merupakan pulau kecil berbukit dan berbatu dengan luas 2,19 hektar. Sebagian besar pesisir pulau Ular berbatu dan bercampur pasir. Pada saat air laut surut, di bagian tenggara pulau terdapat sebuah pantai berpasir putih yang sangat indah. Di sepanjang garis pantai terdapat terumbu karang yang sangat cantik dan menarik
Selanjutnya di Pulau Kenawa yang memiliki topografi datar dengan luas 196,80 ha, terdapat sebuah bukit dengan panorama sekitarnya sangat indah dan menarik. Pada bagian timur dan selatan terdapat pantai berpasir putih. Disepanjang pantai bagian barat terdapat Hutan Mangrove, dengan pesisir pantai yang terhubung dengan tebing curam di bagian utara. Sedangkan pada dua sisi Pulau Kenawa terdapat area terumbu karang yang terbentang luas.
Di Pulau Kenawa juga sering dipakai untuk Snorkeling yaitu kegiatan berenang atau menyelam dengan menggunakan peralatan berupa masker selam dan snorkel.
“Sambil beristirahat menikmati makan siang team juga disambut oleh Kelompok Pengelola Wisata Poto Tano ibu ibu yang menyuguhkan beragam makanan hasil olahan kelompok seperti, Sirup Tamarin Biji selasih, ada Sirup Rumput Laut selasi, Sate Gurita, Kerupuk Ikan, Brocorumla Kelor, Stik Rumput Laut, Abon Ikan, Pota Sinca, Jairo Sirup, Permen Pitarin dan
Kerupang Ikan,” imbuh Aji.
Dan yang di kunjungi terakhir yatu Pulau Namo atau Pulau Nyamuk yang mana
Pulau Namo merupakan lahan berumput dengan luas 190,90 hektar. Pada bagian tengah terdapat dua buah bukit memanjang dari arah selatan ke utara. Pada bagian utara dan barat terdapat pantai berpasir putih. Sedangkan pesisir pantai bagian timur dan selatan, ditutupi oleh hutan Mangrove dengan beragam jenis spesies dan terumbu karang.
Ada 4 jenis mangrove yg berhasil di semai yaitu Mangrove Rizoporasetirosa, Mangrove Tengal bentuknya kecil tapi harganya mahal dan aromanya cukup tercium, Mangrove yang bisa jadi olahan bahan makanan bruruorariza bahasa lokalnya muntu.
Baca juga: Mantan Bupati Jeje Wiradinata Puji Kemajuan RSUD Pandega Pangandaran: Sangat Baik .
Sedangkan untuk jenis Rizopora kita udah uji coba ketahanan mangrove dengan cuaca ekstrem akan tetapi tidak bagus hasilnya.Kemudian kami uji coba berjarak dan berumpun (Gotong royong) dengan harapan hasilnya bagus. J Total mangrove di Gili Namo ada 12 species dan ada 17 species di Gili Belang, dan siap di tanam bulan depan sebanyak 3000 bibit.(DND)**
