Dengan jurnalisme konvergensi, lanjut dia, berita tidak hanya disajikan melalui satu saluran, misalnya surat kabar cetak atau siaran televisi, tetapi juga melalui platform online, media sosial, podcast, video berita, dan lain sebagainya.
“Ini memungkinkan para profesional media menggunakan kelebihan masing-masing bentuk media, dalam menciptakan narasi yang lebih kuat dan menghadirkan cerita dengan cara yang lebih menarik dan interaktif,” imbuh Riza.
Ia menambahkan, konsep jurnalisme konvergensi muncul sebagai respons terhadap perubahan dalam perilaku konsumen media. Semakin banyak orang yang mengakses berita melalui berbagai perangkat dan platform, seperti ponsel pintar, tablet, komputer, dan lain-lain.
“Oleh karena itu, jurnalisme konvergensi memungkinkan media untuk mencapai audiens yang lebih luas dan beragam,” katanya.
Dalam praktiknya, jurnalisme konvergensi melibatkan kolaborasi antara berbagai departemen dalam sebuah organisasi media, seperti jurnalis cetak, jurnalis daring, editor video, desainer grafis, dan lain-lain. Mereka bekerja bersama untuk menciptakan konten yang konferhensif di berbagai platform media.
“Kegiatan ini sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan dalam konsumsi media, serta memanfaatkan berbagai alat dan platform untuk menyampaikan cerita dengan cara yang paling menarik dan efektif kepada audiens,” Demikian Riza Fahriza.(*)
