Selain mempelajari keterlibatan masyarakat, salah satu fokus utama studi ini adalah mendorong penerapan sanitary landfill di Kabupaten Sumbawa Barat. Metode ini dilakukan dengan menimbun sampah di lokasi khusus yang telah dipersiapkan, memadatkannya, lalu menutupnya dengan tanah atau material lain untuk meminimalkan pencemaran udara, tanah, dan air.
“Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang sanitary landfill, kami berharap para lurah bisa menginisiasi pengelolaan sampah yang lebih efektif di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Studi komparasi ini diharapkan menjadi momentum bagi Sumbawa Barat untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Mencontoh keberhasilan Penglipuran, DLH KSB optimistis sistem yang berkelanjutan dapat segera diterapkan sehingga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
“Pengalaman yang diperoleh dari Penglipuran akan menjadi modal berharga untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah di KSB,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, DLH KSB menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pengelolaan sampah yang tidak hanya efisien tetapi juga berorientasi pada kelestarian lingkungan jangka panjang.(Red)**
