Titi menjelaskan, crossmatch adalah pemeriksaan penting yang dilakukan sebelum transfusi darah untuk memastikan kecocokan antara darah donor dan penerima, sehingga mencegah reaksi transfusi yang berbahaya.
“Sebelum dilakukan trasnfusi darah, untuk memastikan kecocokannya adalah dengan crossmatch, hal tersebut dilakukan untuk mencegah reaksi transfusi yang berbahaya,” jelasnya.
Proses Crossmatch dengan Alat Otomatis :
1. Registrasi pasien:
Langkah awal untuk pencatatan dan pendataan kebutuhan darah.
2. Pengambilan labu darah:
Menggunakan metode FIFO (First In, First Out), yakni darah yang pertama kali masuk akan digunakan terlebih dahulu.
3. Pemeriksaan golongan darah:
Untuk memastikan golongan darah pasien dan pendonor sesuai.
4. Sentrifugasi darah:
Darah diputar menggunakan alat khusus untuk memisahkan komponen penting.
5. Pengerjaan crossmatch otomatis:
Dilakukan menggunakan alat otomatis canggih.
“Hasil proses crossmatch itu akan menentukan apakah transfusi darah dapat dilakukan atau tidak. Sehingga reaksi berbahaya dari transfusi darah bisa dihindarkan,” pungkasnya. (*)
