“Melalui program AMMAN ini, kami para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat berarti,” tutur Fatimah, salah seorang ibu pekerja di Jereweh. “Lebih dari itu, kami diajari bagaimana mengubah bahan yang tadinya dianggap kurang berguna seperti sabut kelapa dan ijuk, menjadi barang bermanfaat yang punya nilai ekonomi tinggi. Ini ilmu yang sangat berharga dan membuat kami merasa lebih berdaya,” tambahnya.
Model pemberdayaan ini dikelola melalui koordinator komunitas yang kini menjalankan badan usaha formal dan mempekerjakan warga lokal. Skema ini membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan menciptakan efek berantai bagi kesejahteraan masyarakat.
Tak hanya itu, keterampilan produksi coconet dan ijuk blanket juga diwariskan secara sistematis melalui pelatihan lintas generasi, memastikan keberlanjutan program sekaligus melestarikan pengetahuan lokal.
Menatap Masa Depan: Keberlanjutan dan Potensi Baru
Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications AMMAN menyampaikan bahwa program reklamasi berbasis komunitas bukan hanya proyek sesaat.
“Program reklamasi berbasis komunitas merupakan bagian dari komitmen jangka panjang AMMAN untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami tidak hanya fokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga pada pembangunan kapasitas ekonomi lokal yang akan terus berjalan, bahkan setelah masa operasional tambang berakhir. Skala program pun terus berkembang, di Maluk misalnya, mitra pemasok coconet telah meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah mesin pintal sabut kelapa untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.”
Inovasi terus dikembangkan.
Meski saat ini pemanfaatan utama coconet dan ijuk blanket masih terfokus pada reklamasi, AMMAN bersama masyarakat mulai menjajaki produk turunan lain seperti gula semut dari nira aren, sapu dari ijuk, hingga bahan bakar alternatif dari sabut kelapa. Upaya konservasi juga diperkuat dengan pembibitan tanaman dari indukan lokal.
Kisah ini membuktikan bahwa reklamasi bukan sekadar kewajiban, melainkan ruang untuk kolaborasi dan transformasi. Dari limbah menjadi berkah, dan dari kemitraan lahir masa depan yang lebih hijau dan mandiri.(Red)**
