Kunkun menilai proyek MBG sangat merugikan petani kecil karena tidak adanya kolaborasi yang organik antara pemerintah dan petani. Dalam praktiknya, program ini dinilai tidak melibatkan petani sebagai bagian dari rantai produksi dan distribusi pangan.
“Besarnya anggaran tersebut tidak berpihak kepada petani, hanya menyerap prodak lokal cuma 1 persen,” papar Kunkun
Kata Kunkun, program MBG di kecamatan Langkaplancar dinilai masih jauh dari kata ideal dan sarat kontroversi. Berbagai temuan menunjukkan lemahnya implementasi program, mulai dari aspek pemenuhan gizi hingga tata kelola pelaksanaan.
Baca juga: Menu MBG di SDN Sukamulya Cigalontang Diprotes Siswa, Telor Koclak dan Bau Hingga Roti Bulukan
“Intinya tidak memberikan dampak signifikan bagi petani kecil dan produsen pangan lokal, karena tidak melibatkan mereka secara langsung dalam skema kebijakan yang dijalankan SPPG,” pungkasnya.(RD)**
